IHSG Terlempar dari Level 8.000 Akibat Tensi Geopolitik, Analis Sarankan Strategi Defensif

Table of Contents
Langit Eastern

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa negatif pada perdagangan Selasa (3/2/2026). Indeks ditutup melemah 77,07 poin atau 0,96%, yang memaksa IHSG parkir di level 7.900,39, meninggalkan posisi psikologisnya di level 8.000.

Penurunan ini memperpanjang tren koreksi setelah pada Senin sebelumnya indeks anjlok tajam sebesar 2,65%. Sentimen utama yang menekan pasar domestik diyakini berasal dari eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Head of Retail Marketing and Product Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan, menilai bahwa sektor yang paling rentan terhadap konflik ini adalah transportasi dan logistik. Hal ini disebabkan oleh sensitivitas sektor tersebut terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia.

"Sektor transportasi menghadapi tekanan langsung dari kenaikan harga minyak yang meningkatkan biaya operasional dan menekan margin keuntungan. Selain itu, sektor keuangan juga rentan karena potensi arus modal keluar (capital outflow) yang menekan likuiditas," ujar Reza dalam program Cekertalk, Rabu (4/2/2026).

Namun, Reza mencatat adanya peluang di tengah ketidakpastian. Sektor komoditas energi dan agrikultur justru berpotensi meraup keuntungan dari kenaikan harga global. Menurutnya, pelemahan IHSG saat ini lebih mencerminkan risiko sentimen ketimbang fundamental ekonomi domestik yang sebenarnya masih cukup kokoh.

Peluang Rebound di Area 'Bottom' Meskipun pasar terkoreksi tajam, Reza optimis bahwa pemulihan bisa terjadi lebih cepat karena penurunan ini tidak bersifat sistemik. "Secara historis, koreksi berbasis geopolitik cenderung tajam namun tidak berlangsung lama. Peluang rebound tetap terbuka, terutama jika terdapat sinyal deeskalasi konflik," tambahnya.

Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi domestik dan nilai tukar Rupiah untuk meredam kepanikan pasar. Kepastian kebijakan dan koordinasi antarotoritas keuangan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor.

Strategi Bagi Investor Menghadapi pasar yang fluktuatif, Reza menyarankan investor untuk tetap rasional dan menghindari panic selling. Langkah yang paling realistis saat ini adalah menerapkan strategi defensif dengan memegang saham-saham berfundamental kuat dan menyisakan cadangan tunai (cash).

"Berburu saham murah diperbolehkan, namun harus dilakukan dengan disiplin tinggi. Sektor-sektor yang relatif stabil seperti utilitas, telekomunikasi, dan consumer staples bisa menjadi pilihan. Saham-saham blue chip juga layak dikoleksi untuk jangka panjang saat harganya sedang terkoreksi," pungkasnya.