Trump Sindir Netanyahu dengan Jagokan Suriah Lawan Hizbullah - Analisis Strategi Timur Tengah | Langit Eastern

Pernyataan Donald Trump yang mengejutkan dunia internasional ini disampaikan di sela-sela KTT G7 pada 16 Juni 2026. Trump secara eksplisit mengatakan bahwa Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa, yang ia sebut sebagai "orang yang saya tempatkan di sana", lebih memahami cara menghadapi Hizbullah dibandingkan Israel. Ini adalah sindiran langsung terhadap Netanyahu yang selama bertahun-tahun gagal menghentikan kemampuan Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel dari Lebanon selatan.
Analisis strategis dari pernyataan Trump ini mengungkap beberapa lapisan kepentingan. Pertama, Trump ingin mempercepat penyelesaian konflik di Timur Tengah karena perang yang berkepanjangan menguras sumber daya AS. Kedua, Trump frustrasi karena Netanyahu terus mempersulit perundingan AS-Iran dengan tetap menggempur Lebanon, padahal gencatan senjata Israel-Hizbullah menjadi syarat utama kelanjutan negosiasi. Ketiga, Trump melihat Sharaa sebagai pemimpin yang lebih pragmatis dan dapat diajak bekerja sama, berbeda dengan Netanyahu yang dianggap keras kepala.
Praktiknya, pernyataan ini memiliki implikasi besar. Jika Suriah benar-benar diberi mandat untuk menangani Hizbullah, ini akan mengubah peta kekuatan di Lebanon selatan secara fundamental. Suriah memiliki hubungan historis yang kompleks dengan Hizbullah — sebelumnya rezim Assad adalah sekutu utama Hizbullah, namun setelah pergantian kepemimpinan ke Sharaa, dinamika ini berubah drastis. Sharaa dianggap Trump lebih efektif karena ia memahami struktur internal Hizbullah dan memiliki jaringan intelijen di lapangan.
Di sisi lain, Netanyahu menolak mentah-mentah usulan ini. Israel tetap melancarkan serangan ke Lebanon, yang membuat Trump semakin frustrasi. Ketegangan antara Trump dan Netanyahu mencapai titik terendah ketika AS dan Iran hampir menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Swiss pada 19 Juni. MoU ini merupakan upaya perundingan lanjutan untuk mengakhiri perang yang telah pecah sejak 28 Februari 2026. Israel menganggap perundingan dengan Iran sebagai ancaman eksistensial, sementara AS melihatnya sebagai satu-satunya jalan keluar dari konflik berkepanjangan.
Kritik Trump terhadap metode perang Israel juga patut dicatat. Trump mengatakan, "Anda tidak harus merobohkan sebuah gedung apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di dalam gedung itu dan tidak semuanya adalah anggota Hizbullah." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Trump mengkritik pendekatan militer Israel yang dianggap terlalu brutal dan menimbulkan korban sipil yang tidak perlu.
Ke depannya, skenario yang mungkin terjadi adalah: (1) Suriah mendapatkan dukungan AS untuk operasi kontra-Hizbullah di Lebanon selatan, (2) Israel meningkatkan tekanan diplomatik dan militer untuk mempertahankan posisinya, (3) Iran memanfaatkan perpecahan AS-Israel untuk memperkuat posisi tawar dalam perundingan, dan (4) Lebanon menjadi ajang proxy war baru antara berbagai kepentingan regional.
Saran Link Internal: Perundingan Damai AS-Iran di Swiss: Apa yang Dipertaruhkan? | Profil Ahmed Al Sharaa: Dari Pemberontak ke Presiden Suriah | Sejarah Konflik Israel-Hizbullah: 20 Tahun Gagal Damai