Perang Iran-AS Menuju Akhir: Trump Umumkan Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Segera Dibuka | Langit Eastern

Table of Contents

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 12 Juni 2026 bahwa kesepakatan damai dengan Iran akan ditandatangani pada Minggu, 15 Juni, dan Selat Hormuz akan "terbuka untuk semua" segera setelah penandatanganan. Pengumuman ini muncul setelah tiga hari pertempuran sengit antara AS dan Iran yang hampir menghancurkan gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April 2026. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang negaranya menjadi mediator utama, mengonfirmasi bahwa "teks final yang disepakati" telah tercapai.

Kapal kargo di pelabuhan

Perang Iran-AS yang dimulai sejak akhir Februari 2026 telah menewaskan ribuan orang dan mengirim harga energi global melonjak tajam setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur air yang biasanya menangani seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Harga minyak Brent sempat mencapai puncak $125 per barel pada akhir April sebelum turun ke bawah $88 pada 13 Juni seiring optimisme kesepakatan damai. Pasar saham Asia dan global juga rally kuat pada Jumat karena harapan perdamaian yang semakin nyata.

Kesepakatan yang disebut "Islamabad Memorandum of Understanding" ini dimediasi oleh Pakistan dengan dukungan Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Qatar. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kesepakatan "belum pernah sedekat ini" dan mengkonfirmasi bahwa perang akan berakhir "di semua front, termasuk Lebanon." Namun, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan kembali ke status quo pra-perang untuk Selat Hormuz. Iran menginginkan sistem tol permanen bagi kapal yang melintas, dengan Araghchi menyatakan "akan ada biaya yang terlibat, dan biaya itu harus dibayar."

Struktur kesepakatan terdiri dari dua fase. Fase pertama adalah perjanjian interim yang mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, dan pembebasan $24 miliar dana Iran yang dibekukan di bank asing. Fase kedua, dalam waktu 60 hari setelah penandatanganan, akan membahas program nuklir Iran termasuk pemindahan dan penghancuran uranium yang diperkaya tinggi. Trump menegaskan "tidak akan ada senjata nuklir di Iran. Itu berarti tidak dikembangkan dan tidak dibeli."

Penandatanganan direncanakan di Jenewa, Swiss, berdekatan dengan KTT G7 di Evian, Prancis (15-17 Juni). Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus Steve Witkoff akan mewakili AS. Namun, ketegangan masih tinggi. CENTCOM melaporkan mencegat beberapa drone serang satu arah Iran yang menargetkan kapal komersial di Selat Hormuz pada 13 Juni. Sehari sebelumnya, Iran memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi selat akan ditembak. Kapal tanker berbendera Guinea-Bissau juga terkena serangan AS pada Kamis, menewaskan tiga pelaut India dan memicu protes keras dari New Delhi.

Israel menjadi faktor komplikasi utama. Netanyahu menyatakan Israel "bukan pihak dalam MoU" dan menegaskan apresiasinya atas komitmen Trump untuk kesepakatan yang mencakup penghapusan material nuklir Iran, pembongkaran infrastruktur pengayaan, pembatasan produksi rudal, dan penghentian dukungan untuk proksi regional. Menteri Pertahanan Israel Katz memperingatkan bahwa Israel tidak akan menarik diri dari Lebanon, Suriah, atau Gaza, dan dapat bertindak independen terhadap Iran. Pekan lalu, Trump mengaku "mengumpat Netanyahu" dalam panggilan telepon karena operasi militer Israel di Lebanon yang mengancam proses perdamaian.

Dampak ekonomi perang ini sangat signifikan. Harga bensin yang tinggi telah menurunkan approval rating Trump dan memicu kekhawatiran di kalangan Partai Republik bahwa ketidakpopuleran perang dapat membuat mereka kehilangan kendali Kongres dalam pemilu paruh waktu November 2026. Di sisi Iran, pemerintah mengklaim kerusakan sekitar $300 miliar akibat bombardemen intensif AS dan Israel. Mehr News Agency melaporkan kesepakatan mencakup "rencana rekonstruksi" senilai sekitar $300 miliar untuk Iran. Menteri Luar Negeri Araghchi bahkan mengklaim Iran adalah "pemenang" perang dan "muncul lebih kuat" dari konflik.

Meskipun optimisme tinggi, rintangan tetap ada. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang bersembunyi sejak konflik meletus, masih harus memberikan persetujuan final. Komunikasi dengannya dilaporkan memakan waktu berhari-hari. Iran juga belum membuat keputusan final, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menyatakan "kami belum mencapai kesimpulan akhir mengenai masalah ini." Selain itu, ranjau yang kemungkinan ditempatkan Iran di Selat Hormuz harus dibersihkan, dengan Inggris dan Prancis sudah menyiapkan misi pembersihan ranjau pasca-perang. Jika berhasil, kesepakatan ini akan menjadi terobosan diplomatik paling signifikan dalam konflik Timur Tengah modern.

Saran Link Internal: Dampak perang Iran-AS terhadap harga energi global, Peran Pakistan sebagai mediator konflik Timur Tengah, Analisis program nuklir Iran pasca-kesepakatan