Negosiasi AS-Iran di Swiss - Dampak Penutupan Selat Hormuz pada Energi Global | Langit Eastern

Pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran dimulai di Swiss pada hari Minggu, 21 Juni 2026, di tengah ketegangan baru setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan udara Israel di Lebanon selatan yang menurut Iran melanggar klausul pertama nota kesepahaman 14 poin yang telah ditandatangani sebelumnya. Klausul tersebut mensyaratkan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.
Wakil Presiden AS JD Vance telah tiba di Swiss pada Minggu pagi untuk memimpin delegasi Amerika. Delegasi Iran yang dipimpin oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei dan termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah tiba pada Sabtu malam. Pakistan juga turut bergabung dalam perundingan ini, dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Field Marshal Asim Munir ikut serta sebagai mediator.
Kontradiksi langsung terjadi antara pernyataan Iran dan militer AS. Komando Pusat AS (Centcom) melalui juru bicara Tim Hawkins menyatakan bahwa lalu lintas kapal tetap berjalan normal dan Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz. Centcom melaporkan 55 kapal dagang melintasi selat tersebut pada hari Sabtu dengan membawa lebih dari 17 juta barel minyak untuk pasar global. Data ini menunjukkan bahwa klaim Iran tentang penutupan selat mungkin lebih bersifat politis daripada operasional.
Dampak ekonomi dari ketegangan ini sangat signifikan. Selat Hormuz adalah jalur transit bagi sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak per hari, setara dengan hampir 600 miliar dolar AS per tahun dalam perdagangan energi. Setiap gangguan pada jalur ini berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasokan energi ke negara-negara konsumen utama seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Vance menyatakan harapannya untuk mencapai kemajuan dalam isu nuklir dan gencatan senjata di Lebanon. Namun, situasi di lapangan masih rumit. Pada hari Sabtu, sedikitnya 47 orang tewas di Lebanon akibat serangan udara Israel. IDF mengklaim telah menyerang 80 target yang terkait dengan Hizbullah dan membunuh puluhan anggotanya. Hizbullah sendiri menuduh serangan Israel di Lebanon sebagai upaya untuk mensabotase kesepakatan AS-Iran yang lebih luas.
Saran Link Internal: Dampak Konflik Timur Tengah pada Harga Minyak, Analisis Geopolitik Selat Hormuz, Peran Pakistan dalam Mediasi Internasional