Ringkasan: Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim telah menghasilkan sejumlah kejutan besar. Cape Verde (peringkat 64), Curacao (81), Ghana (65), dan Afrika Selatan (54) berhasil mengambil poin dari raksasa seperti Spanyol (3), Ekuador (29), Inggris (4), dan Korea Selatan (28). Analisis BBC Sport mengungkap tiga pola taktis utama di balik fenomena ini.

Piala Dunia 2026 menjadi panggung pembuktian bahwa peringkat FIFA tidak selalu menentukan hasil di lapangan. Cape Verde, negara kepulauan dengan populasi hanya 530.000 jiwa, menjadi sorotan utama setelah menahan imbang Spanyol 0-0 di pertandingan debut mereka. Kiper veteran Vozinha yang berusia 40 tahun dinobatkan sebagai pemain terbaik berkat penyelamatan gemilangnya. Namun, hasil ini bukan sekadar keberuntungan. BBC Sport melalui analis taktik Umir Irfan mengidentifikasi tiga strategi kunci yang digunakan tim underdog untuk melawan superioritas teknis lawan.
Strategi pertama adalah disiplin pertahanan tanpa menggiring lawan keluar dari posisi. Cape Verde menggunakan formasi 4-5-1 dengan jarak sangat rapat antara lini tengah dan lini belakang. Saat Spanyol mencoba menarik mereka keluar dengan operan ke belakang, Cape Verde tidak terpancing. Statistik PPDA (opposition passes allowed per defensive action) Cape Verde mencapai 51,2 — artinya mereka membiarkan Spanyol mengoper 51 kali sebelum melakukan satu tindakan defensif. Angka ini sangat tinggi dan menunjukkan pendekatan pasif yang disengaja. Ghana melakukan hal serupa saat melawan Inggris dengan PPDA 62 pada 15 menit pertama.
Strategi kedua adalah menutup lebar lapangan. Analisis menunjukkan bahwa tim yang menggunakan formasi lima bek justru sering gagal karena kurangnya cakupan lebar. Arab Saudi dengan formasi 5-4-1 kebobolan karena lini tengah mereka terlalu bergerak ke arah bola, meninggalkan ruang kosong di sisi sayap. Lamine Yamal dan Pedro Porro memanfaatkan overload 2v1 ini untuk mencetak gol ketiga Spanyol. Swedia dengan formasi 5-3-2 mengalami nasib lebih buruk — kalah 5-1 dari Belanda karena hanya memiliki tiga gelandang yang tidak mampu menutup lebar lapangan.
Strategi ketiga adalah membangun serangan dari bawah dengan cerdas. Afrika Selatan hanya menguasai 31% bola tetapi melepaskan 14 tembakan berbanding 7 milik Korea Selatan. Kuncinya adalah tendangan gawang pendek yang dirancang untuk menarik tekanan lawan, lalu mengirim bola panjang ke ruang kosong. Cape Verde dan Irak juga menggunakan pola yang sama. Risikonya memang tinggi — Afrika Selatan kebobolan dari situasi ini saat melawan Meksiko — tetapi imbalannya sepadan jika eksekusi akhir tepat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kualitas taktik tim-tim kecil meningkat drastis. Dengan pemain yang mungkin lebih rendah kualitas individunya, tetapi dengan organisasi yang tepat dan arah kolektif yang jelas, tim underdog bisa memberikan perlawanan sengit. Dan tentu saja, sedikit kualitas individu — seperti penyelamatan Vozinha atau rekor 15 penyelamatan kiper Curacao Eloy Room — tetap diperlukan untuk mengamankan hasil.
Saran Link Internal: Analisis Taktik Piala Dunia 2026 | Cape Verde vs Spanyol: Kejutan Terbesar | Strategi Tim Underdog di Turnamen Besar