Tantangan Infrastruktur Transportasi dan Revitalisasi Sektor Strategis Nasional

Table of Contents
Summery
  • Mayoritas armada KRL Jabodetabek berusia di atas 30 tahun, memicu risiko kepadatan ekstrem hingga 5 orang per meter persegi dan ancaman kelangkaan kapasitas di tahun 2030.

Langit Eastern

Kondisi transportasi publik di wilayah metropolitan kini berada di titik kritis yang memerlukan penanganan segera. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasidin, mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan mengenai armada KRL Jabodetabek yang menjadi tulang punggung mobilitas warga. Sebanyak 908 unit armada yang beroperasi saat ini telah memasuki usia senja, yakni antara 34 hingga 41 tahun, sebuah rentang usia yang jauh melampaui masa pakai optimal kendaraan operasional massal.

 

Ketergantungan pada teknologi lama ini bukan tanpa risiko, terutama dalam menghadapi lonjakan volume penumpang yang terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini, kepadatan di dalam gerbong pada jam sibuk telah mencapai rasio yang sangat tidak ideal, di mana satu gerbong bisa menampung hingga 300 orang. Secara teknis, ini berarti setiap satu meter persegi ruang diisi oleh lima orang, sebuah kondisi yang menekan standar kenyamanan dan meningkatkan risiko keamanan bagi pengguna jasa.

 

Tanpa adanya langkah percepatan dalam pengadaan sarana baru, diproyeksikan akan terjadi krisis kapasitas angkut yang masif hingga 630% pada tahun 2030. Saat ini, upaya modernisasi baru mencakup pengoperasian 180 unit kereta baru, yang terdiri dari kombinasi rangkaian impor dan produksi dalam negeri oleh PT INKA. Transformasi armada menjadi kebutuhan absolut agar mobilitas warga di ibu kota tidak mengalami stagnasi total dalam beberapa tahun ke depan.