Siapa Sultan Ahmed bin Sulayem? Taipan Dubai yang Jatuh Karena Epstein
- Sultan Ahmed bin Sulayem mundur dari DP World guna meredam dampak negatif setelah namanya terseret dalam skandal dokumen Jeffrey Epstein.
- Dokumen DOJ mengungkap ribuan pesan yang menunjukkan hubungan erat antara Bin Sulayem dan Epstein, termasuk setelah Epstein terjerat kasus hukum berat.
Dunia perdagangan global dikejutkan dengan pengunduran diri mendadak Sultan Ahmed bin Sulayem, tokoh sentral di balik raksasa logistik DP World. Keputusan ini diambil setelah namanya muncul secara ekstensif dalam kumpulan dokumen terbaru terkait terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.
Selama tiga dekade terakhir, Bin Sulayem telah membangun reputasi sebagai arsitek utama yang mengubah Dubai menjadi pusat logistik dunia. Namun, pengungkapan ribuan pesan komunikasi dengan Epstein telah menciptakan krisis kredibilitas yang tidak dapat dihindari oleh Pemerintah Dubai maupun dewan direksi perusahaan.
Dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengungkap sisi gelap dari hubungan mereka yang berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun. Komunikasi tersebut tidak hanya berisi diskusi bisnis, tetapi juga percakapan yang mengandung konten eksplisit, misoginis, dan menunjukkan kedekatan personal yang sangat intim.
Hal yang paling memberatkan adalah fakta bahwa komunikasi tersebut tetap berlanjut bahkan setelah Epstein mengaku bersalah atas kasus prostitusi anak pada tahun 2009. Hubungan yang bertahan melampaui vonis hukum ini memicu reaksi keras dari mitra internasional dan investor global yang menjunjung tinggi standar etika.
Posisi CEO kini telah dialihkan kepada Yvraj Narayan, mantan Direktur Keuangan DP World, sebagai langkah darurat untuk menstabilkan kepercayaan pasar. Tekanan semakin meningkat setelah beberapa perusahaan global mulai meninjau ulang kontrak kerja sama mereka dengan operator pelabuhan terbesar di dunia tersebut.
Fenomena mundurnya Bin Sulayem menambah daftar panjang elit global yang kehilangan kekuasaan akibat keterkaitan dengan jaringan Epstein. Tren ini menunjukkan bahwa transparansi digital dan dokumen hukum masa lalu kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas karier para pemimpin dunia di era modern.
