Motif Dendam di Balik Tragedi Pembacokan Mahasiswi di UIN Riau
Dunia pendidikan tinggi di Provinsi Riau dikejutkan oleh aksi kekerasan brutal yang menimpa seorang mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim. Korban berinisial F (23) menjadi sasaran serangan senjata tajam tepat di hari yang seharusnya menjadi momen krusial dalam perjalanan akademiknya, yakni sidang skripsi.
Pelaku yang diidentifikasi sebagai RM (21) diduga telah merencanakan tindakan tersebut dengan membawa senjata tajam berupa kapak dan parang dari kediamannya. Motif di balik aksi nekat ini disinyalir kuat berakar pada sentimen pribadi dan rasa sakit hati, yang memicu eskalasi konflik hingga berujung pada penganiayaan berat di lantai dua gedung fakultas.
Kepolisian Daerah (Polda) Riau saat ini menerapkan pendekatan Scientific Crime Investigation untuk mendalami kronologi serta niat jahat pelaku secara komprehensif. Investigasi awal menunjukkan adanya keterkaitan emosional antara keduanya, yang mempertegas bahwa risiko kekerasan berbasis relasi dapat menyusup hingga ke dalam area institusi pendidikan yang dianggap steril.
Kondisi medis korban dilaporkan telah berangsur stabil di RS Bhayangkara Pekanbaru, meski mengalami luka serius pada bagian kepala dan lengan akibat serangan berulang. Pihak otoritas kesehatan merencanakan rujukan ke RS Arifin Ahmad guna memastikan pemulihan intensif dan penanganan trauma pasca-kejadian yang sangat membekas bagi sivitas akademika.
Insiden ini menjadi alarm keras bagi manajemen universitas di seluruh Indonesia untuk memperketat sistem keamanan dan pengawasan akses masuk. Pencegahan kekerasan di lingkungan kampus tidak hanya memerlukan penjagaan fisik, tetapi juga deteksi dini terhadap potensi konflik interpersonal yang melibatkan mahasiswa guna menjamin ruang belajar yang aman.
