Mengapa Meksiko Menjadi 'Senjata Rahasia' Cina dalam Perang Dagang
- Cina mengubah Meksiko menjadi basis produksi utama untuk menghindari tarif perang dagang Amerika melalui pemanfaatan perjanjian USMCA.
- Investasi masif di sektor otomotif dan elektronik telah memberikan Meksiko julukan "The New China" sekaligus menjadikannya eksportir terbesar ke AS di tahun 2023.
- Ketegangan baru berpotensi muncul seiring dengan pengawasan ketat pemerintah AS terhadap asal-usul modal dan konten produk yang masuk dari Meksiko.
![]() |
| Photo by Ling Tang on Unsplash |
Peta perdagangan global sedang mengalami pergeseran tektonik yang menempatkan Meksiko di pusat pusaran persaingan antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Cina. Fenomena ini bukan sekadar relokasi pabrik biasa, melainkan sebuah manuver strategis dari Beijing untuk menembus barikade tarif yang dipasang oleh Washington sejak tahun 2019. Dengan memanfaatkan celah dalam perjanjian perdagangan regional, Cina kini tengah membangun "pintu belakang" menuju pasar Amerika langsung dari perbatasan selatannya.
Awal mula ketegangan ini berakar pada kebijakan proteksionis yang diluncurkan di bawah era Donald Trump, yang menuding adanya praktik dagang tidak adil dan pencurian kekayaan intelektual oleh pihak Cina. Imbasnya, tarif tinggi dan hambatan regulasi membuat produk bertanda "Made in China" kehilangan daya saingnya di pasar Amerika. Tekanan ini memaksa perusahaan-perusahaan manufaktur global untuk mengevaluasi ulang rantai pasok mereka guna menghindari biaya tambahan yang mencekik margin keuntungan.
Meksiko secara historis merupakan pesaing utama Cina dalam sektor manufaktur murah untuk pasar Amerika Utara. Namun, dinamika ini berubah total berkat perjanjian USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement) yang memberikan akses bebas tarif bagi barang-barang yang diproduksi di kawasan tersebut. Cina dengan cerdik melihat hal ini bukan lagi sebagai hambatan, melainkan peluang emas untuk melakukan investasi lintas batas yang masif.
Fenomena "The New China" di tanah Meksiko kini menjadi kenyataan dengan munculnya kawasan industri raksasa seperti di wilayah Hofusan. Perusahaan otomotif listrik global, BYD, bersama dengan raksasa elektronik lainnya, mulai mengucurkan dana miliaran dolar untuk membangun basis produksi di sana. Strategi ini memungkinkan produk-produk tersebut secara legal berlabel "Made in Mexico", sehingga mereka dapat melenggang masuk ke Amerika Serikat tanpa terkena pajak impor hukuman yang ditujukan bagi produk asal daratan Cina.
Langkah infiltrasi ekonomi ini bukannya tanpa hambatan karena Cina harus menghadapi perbedaan budaya, kendala bahasa, serta regulasi tenaga kerja lokal yang ketat di Meksiko. Upah pekerja di Meksiko tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara manufaktur di Asia Tenggara seperti Vietnam. Kendati demikian, efisiensi logistik karena jarak yang sangat dekat dengan perbatasan Amerika membuat biaya-biaya tersebut tetap dianggap sebagai investasi yang masuk akal demi mengamankan pangsa pasar.
Ke depannya, masa depan strategi ini akan sangat bergantung pada hasil kontestasi politik di Gedung Putih. Washington mulai menyadari adanya penyusupan investasi ini dan kemungkinan besar akan memperketat aturan RoO (Rules of Origin) dalam perjanjian perdagangan mereka. Jika Amerika Serikat memutuskan untuk menutup celah ini, maka Meksiko akan berada di posisi terjepit antara ketergantungan investasi dari Timur dan tekanan politik dari Utara.
