Bukan Sekadar Ijazah, Portofolio Proyek Jadi Kunci Lulusan SMK Agar Tetap Relevant Dengan Industri
- Keberhasilan SMK di Kudus bertumpu pada keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum dan evaluasi kompetensi tahunan untuk mencegah skill gap.
- Industri modern lebih memprioritaskan bukti nyata pekerjaan (portofolio) melalui Teaching Factory dibandingkan sekadar nilai akademik.
- Kepemilikan sertifikasi global dan penguasaan teknologi mutakhir adalah syarat mutlak bagi lulusan vokasi untuk bersaing di pasar tenaga kerja internasional.
Fenomena pengangguran di Indonesia sering kali menghadirkan ironi yang tajam. Di satu sisi, institusi pendidikan vokasi seperti SMK didesain sebagai pencetak tenaga kerja siap pakai. Namun, data menunjukkan bahwa lulusan SMK justru kerap mendominasi angka pengangguran nasional. Terjadi jurang pemisah yang lebar atau mismatch antara kompetensi yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan riil dunia industri. Riset menunjukkan hampir 80% perusahaan kesulitan menemukan talenta yang sesuai, meski jumlah lulusan melimpah.
Namun, di tengah potret buram tersebut, sebuah anomali positif muncul dari Kudus. SMK di wilayah ini berhasil membalikkan narasi negatif tersebut dengan angka serapan kerja mencapai 97%. Mereka tidak hanya mengirim lulusan ke perusahaan lokal, tetapi juga menembus pasar global seperti Jepang, Taiwan, hingga Meksiko. Keberhasilan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari sinkronisasi kurikulum yang radikal dan keterlibatan aktif industri sejak hari pertama siswa menginjakkan kaki di sekolah.
Salah satu kunci utamanya adalah penerapan pola Teaching Factory. Di sini, siswa tidak sekadar simulasi, melainkan mengerjakan proyek riil dari industri dengan standar kualitas yang sama ketatnya. Portofolio pengerjaan proyek inilah yang menjadi "mata uang" lebih berharga daripada sekadar nilai di atas ijazah. Hasilnya nyata, unit bisnis sekolah mampu menghasilkan pendapatan miliaran rupiah per tahun yang kemudian diputar kembali untuk kesejahteraan guru dan beasiswa siswa.
Pendidikan vokasi yang relevan membutuhkan investasi besar pada infrastruktur. SMK di Kudus mengadopsi teknologi kelas dunia, seperti simulator navigasi kapal dari Norwegia dan fasilitas pengelasan standar internasional. Hal ini krusial karena mengajarkan teknologi yang sudah usang hanya akan menghasilkan lulusan yang tidak kompetitif. Dengan fasilitas 6G welding, siswa dipersiapkan untuk proyek infrastruktur strategis di seluruh dunia.
Sertifikasi menjadi benteng terakhir penjamin kualitas. Lulusan tidak hanya memegang ijazah nasional dari BNSP, tetapi juga sertifikat internasional seperti dari Nippon Kaiji Kyokai (ClassNK) Jepang. Pengakuan ganda ini meruntuhkan hambatan geografis, memungkinkan anak-anak daerah dari Kudus untuk berkarir di perusahaan minyak Timur Tengah atau kapal niaga di Amerika. Inovasi ini membuktikan bahwa pendidikan yang tepat sasaran adalah kunci kedaulatan ekonomi.
