Arsitektur Tanah Liat Rahasia Ketahanan Kota Shibam yang Berusia 1.700 Tahun
- Shibam merupakan pionir arsitektur vertikal dunia yang dibangun sepenuhnya menggunakan material tanah liat dan lumpur.
Dunia mengenal pencakar langit melalui baja dan kaca di Manhattan, namun jauh di lembah Hadramaut, Yaman, terdapat Shibam. Kota ini bukan sekadar pemukiman kuno, melainkan manifestasi rekayasa sipil berbasis material organik yang telah berdiri kokoh selama lebih dari tujuh belas abad.
Struktur vertikal di Shibam bukanlah hasil dari teknologi modern, melainkan pemanfaatan tanah aluvial yang melimpah di sekitarnya. Masyarakat setempat mengolah tanah subur bekas lahan pertanian menjadi lumpur berkualitas tinggi yang kemudian dikeringkan menjadi bata untuk membangun gedung hingga tujuh lantai.
Pilihan material tanah ini bukan tanpa alasan teknis yang mendalam. Tanah memiliki kapasitas termal yang luar biasa, mampu menyerap panas matahari di siang hari dan melepaskannya perlahan saat suhu gurun yang ekstrem turun di malam hari.
Secara historis, kepadatan bangunan di Shibam berfungsi sebagai sistem pertahanan kolektif. Dengan membangun gedung yang saling berhimpit dan dikelilingi tembok besar, kota ini bertransformasi menjadi benteng yang melindungi penduduknya dari serangan nomaden serta badai pasir yang destruktif.
Statusnya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1982 menegaskan bahwa Shibam adalah bukti nyata kemakmuran peradaban Arab Selatan di masa lampau. Di balik dinding tanahnya yang terlihat bersahaja, tersimpan simbol kekuasaan politik dan pusat perdagangan yang pernah mendominasi jalur rempah dan kemenyan.
Keberlangsungan hidup kota ini hingga milenium ketiga sangat bergantung pada pemeliharaan rutin oleh para pengrajin lokal. Setiap lapisan lumpur baru yang dioleskan pada dinding luar adalah bentuk dedikasi masyarakat untuk menjaga warisan arsitektur berkelanjutan yang paling unik di dunia.
