Update Semeru: Status Awas, Warga Dilarang Beraktivitas Radius 8 KM

Table of Contents

Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Rabu (19/11), memaksa otoritas menaikkan statusnya dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV) hanya dalam hitungan jam. Erupsi besar ini melontarkan material vulkanik hingga ketinggian 2.000 meter dari puncak, diikuti oleh luncuran awan panas guguran sejauh 13 kilometer yang mengarah ke tenggara dan selatan. Wilayah yang terdampak cukup parah meliputi Desa Supit Urang, Oro-Oro Ombo, dan Penanggal di Kabupaten Lumajang.

erupsi semeru

Di tengah situasi genting tersebut, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memastikan keselamatan 187 pendaki yang saat itu berada di kawasan Ranu Kumbolo. Berdasarkan analisa arah erupsi yang dominan ke selatan dan tenggara, posisi Ranu Kumbolo di sisi utara dinyatakan aman dari jangkauan material vulkanik. Seluruh pendaki, beserta guide dan porter, telah dievakuasi turun ke Ranu Pane pada Kamis siang untuk meminimalisir risiko, terlebih kondisi cuaca di lokasi dilaporkan hujan dan kurang kondusif.

Dampak erupsi ini memicu gelombang pengungsian yang cukup besar. Laporan dari Basarnas mencatat hampir 1.000 orang dari Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro harus menempati berbagai titik pengungsian, mulai dari sekolah, balai desa, hingga masjid. Meskipun sebagian warga sempat kembali ke rumah pada pagi harinya untuk mengamankan barang-barang pribadi, proses pendataan dan evakuasi terus dilakukan oleh petugas gabungan di lapangan.

Hingga laporan ini dibuat, tidak ada korban jiwa yang tercatat, namun tiga orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat dampak awan panas dan abu vulkanik. Dua korban merupakan pasangan suami istri yang mengalami kecelakaan akibat jalanan licin tertutup abu di jembatan Gladak Perak, menderita luka bakar sekitar 20 persen. Sementara satu korban lainnya, seorang warga lokal, didiagnosa mengalami luka bakar grade 1 dan telah dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk penanganan medis lebih lanjut.

Merespons eskalasi ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang bergerak cepat dengan menetapkan status Tanggap Darurat selama tujuh hari, mulai 19 hingga 25 November 2025. Penetapan status ini krusial untuk memangkas prosedur administratif, sehingga mobilisasi Tim SAR, logistik, dan penggunaan dana darurat dapat dilakukan dengan segera demi fokus utama penyelamatan jiwa.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 saja, Semeru telah mengalami lebih dari 2.800 kali letusan. Mengingat karakter letusannya yang eksplosif dan riwayat bencana sebelumnya, masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas apapun dalam radius 8 kilometer dari puncak gunung untuk menghindari bahaya material pijar maupun potensi lahar dingin.